Entri Populer

Showing posts with label entry. Show all posts
Showing posts with label entry. Show all posts

Tuesday, November 5, 2013

(Report #5): TKC (Tenggarong Kutai Carnival)

IT WAS A SPLENDID DAY.

It really is.

I CAN'T FORM ANY WORDS MORE THAN-- FANTASTIC. AWESOME. SPLENDID. Everything that you could wish to see on a performance!

This is so late but well assignments, assignments... what do you expect???


What is TKC???
What--!? You--- Geez, guys, you must know about it! TKC is an acronym of Tenggarong Kutai Carnival, something like a fashion parade of cultural wonders on that Kutai Kartanegara region-- like that Samba thing parade on Brazil, or maybe Dia de Muertos in Mexico (...ok, maybe not about the Mexico one but I hope you got the gist). So, yes, it so glorious, not to mention it's using a theme with the region cultures in it, and any all ding a dong fancy fancy things all over it.


Where is it?
On Tenggarong, Kutai Kartanegara, of course! It will hold again next year at October 25th, so be sure to not miss it!
Oh, and it be held to commemorate 231th of Tenggarong's birthday.

Btw, this is my personification of Tenggarong. sssttt everyone that knows Hetalia just ssstttt
 
O ya, tell that to your 'Mother'.



Our pass for this event. We were on Tent D.





TKC with a theme 'The Magic of Borneo'


Fanccyyy... This is from Belian, one of sub-themes in TKC.

There's three sub-themes in 'The Magic of Borneo'. The one is Belian (traditional medical treatment with chanting and dances, very sacred ritual), Orchid of Borneo (there's Duta, Black, and Manuntung's Orchid as sub sub-themes), and Seraong of Borneo (Seraong/Seraung is a traditional hat worn by Dayak People to keep them from the sun).







The performance began with a show from the fancy-ass kicking of JFC, the consultant creator of TKC. I really love the music that they use, especially that marching band one. The music is so neat, and the customes... their dances, it matches so well with one another. 

Its. Soles. Are. Just. On. The. Tip. Of. Her. FEET.
WHAT SORCERY THAT YOU USE YOU WILL BE GOING ON TO FEET FOR 3 KM STRAIGHT YOU  



And then it's Belian's turn to show off. :))






And the Orchid's:









Before the last one that is Seraong, Jepen dance was presented to us.



AND IT'S SHOW TIME.





MY BODY IS READY #shot



This is a guy. A guy I tell you.
 And yet, he dresses in woman type of clothing is more good than any real women. >->



I will try to upload some videos but I think you guys could go google it by yourself? Like, come on, it's not that hard. Until you see it's in Indonesian then...

(Report #4) Samarinda Seberang (3/3): Sarung Tenun Samarinda

THE LAST ONE FOR THIS OMG





"In boredom, you find creativity to form."


Keren ya quote saya itu? XD Ah, tidak perlu banyak bacot, kali ini saya ingin lebih luwes dalam menulis entri ini, karena saya rasa ini emang waktu yang tepat untuk itu. 8D


Sejarah Singkat Hadirnya Sarung Tenun
Ini merupakan kisah yang lucu bagi diri saya pribadi, karena ternyata warga Bugis dari Wajo yang bosan ketika sedang menyeberangi selat demi mencapai Samarinda Seberang lah yang membuat sarung ini. Pergi menggunakan kapal memang selalu memakan waktu, terlebih jika cuaca tengah tak bersahabat dan keadaan laut tidak menentu. Nah, karena bosan hanya menunggu saja di kapal tanpa melakukan hal lain yang cukup berguna, warga Bugis Wajo pun menenun kain dengan peralatan seadanya. Yang begitu sesampainya di Samarinda kain biasanya akan sudah jadi, saking lamanya mereka menunggu di laut.

Akibat ketertarikan banyak orang terdekat akan hasil karya mereka, mereka (warga Bugis Wajo) pun mulai memroduksi sarung tenun ini dengan alat tenun.


alat penenun yang bernama 'Gedokan'.



Corak Sarung
Ada bermacam corak sarung tenun yang tersedia. Di antaranya ada corak Soekarno, corak Hatta, Sari Pengantin, Palopo, Negara, Bontang, Pucuk, Perempuan dan masih banyak lagi.


 Lupa masing-masing namanya apa orz. >->
Palopo. Entah kenapa yang ini cukup saya ingat, lol.







Yang mengejutkan, ternyata bahan berupa benang yang digunakan untuk membuat kerajinan ini bukan berasal dari Indonesia, namun dari Cina. >-> Again. Pengrajin biasanya memesan benang sutra dari Cina itu di Surabaya, jadi... seperti sebuah siklus yang terlalu berputar-putar? Yah, itu yang saya pikirkan pertama kali.

Gedokan dibuat oleh pengrajin khusus juga. Pastinya.

Motif-- motif kain adalah hal yang paling membuat hati saya miris. Menurut cerita dari salah satu pengrajin, masing-masing pengrajin mengerjakan kain sarung berdasarkan motif yang dibuat oleh pemotif sarung tenun. Dan menurut cerita pula, kini hanya tersisa satu orang tua pemotif yang masih hidup, walau belia sedang sakit. Dan sekilas terpikirkan oleh saya; bagaimana jika orang tua tersebut meninggal? Bukankah tidak bakal lagi ada yang dapat membuatkan motif bagi para pengrajin. Walau saya tidak mengatakan hal ini, namun salah satu teman.
Tapi pengrajin yang menjadi nara sumber itu hanya menjawab dengan nada santai, bahwa masih ada anak sang pemotif jadi hal itu tidak menjadi pikiran mereka.

Saya cukup terperanjat mendengar hal tersebut.

Hanya satu? Cukup hanya satu orang generasi penerus??? Apa tidak ada usaha dari dinas terkait tentang ini? Apa ini akan dibiarkan begitu saja?? Saya marah dalam hati.


Yah, pada akhirnya pemikiran ini pun tidak akan berguna jika orang yang dikhawatirkan samasekali tidak berpikir bahwah hidup mereka tengah berada di ujung tanduk. Saya speechless.


Lokasi Kampung Tenun
Lokasi pengrajin tenun berada di Gang Pertenunan Rt. 02 di Kelurahan Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Samarinda.
Yeeepppp, jika jalan yang diambil benar, maka lokasi Makam Daeng Mangkona, Masjid Shirathal Mustaqiem dan Kampung Tenun dapat didatangi dengan sekali jalan. Seperti apa yang kami lakukan 3 minggu lalu. 8D

(Report #3) Samarinda Seberang (2/3): Masjid Shirathal Mustaqiem



Masjid Shirathal Mustaqiem adalah masjid tertua di Samarinda. Masjid yang dibangun pada tanggal 1881 dan rampung sepuluh tahun kemudian ini, pernah mendapatkan penghargaan dalam Festival Masjid Bersejarah di Indonesia; dinobatkan sebagai masjid bersejarah ke dua setelah salah satu masjid tua di Banten.


Sejarah Singkat
Menara yang menjadi hadiah dari saudagar kaya berkebangsaan Belanda, Henry Dansen.

Pada tahun 1880, seorang pedagang muslim dari Pontianak bernama Said Abdurachman bin Assegaf (bergelar pangeran Bendahara) datang pada Sultan Kutai untuk diberikan izin menetap di Samarinda Seberang. Aji Muhammad Sulaiman, Sultan Kutai saat itu, melhat ketaatan dan ketekunan dari sang Pangeran Bendahara dalam menjalankan syariat agama akhirnya memberikan izin bagi beliau untuk menetap.

Ternyata di masa itu, Samarinda Seberang banyak tersebar kegiatan perjudian, minuman keras maupun penyembahan berhala yang cukup membuat masyarakat resah akan rusaknya imej Samarinda Seberang sebagai corong utama syiar di Samarinda. 

Dalam usaha masyarakat dan juga Pangeran Bendahara untuk menghentikan setiap kegiatan tidak sesuai ajaran agama tersebut, akhirnya disepakati bahwa mereka akan membangun sebuah masjid pada lahan seluas 2.028 m2.


Akhirnya pembangunan pun dilakukan dengan menancapkan empat pilar utama sebagai pondasi awal masjid. 

Pendirian empat pilar besar ini pun tak lepas dari kesan mistik, dikarenakan tidak ada yang mampu mengangkat pilar sebesar itu karena kurang majunya zaman dan alat dongkrak modern samasekali belum ada pada masa itu. Dalam cerita yang diberikan oleh sang penjaga masjid, pada saat pengerjaan masjid, ada seorang nenek-nenek tua yang menghampiri dan menawarkan bantuan untuk mengangkat keempat pilar itu. 

Awalnya masyarakat menganggap hal tersebut sebagai lelucon, namun Pangeran Bendahara menyambut wanita tua itu dan mempersilahkan beliau untuk melakukan apa yang ia inginkan. Nenek itu pun bertitah bahwa masyarakat sebaiknya pulang ke rumah dan jangan keluar pada malam hari nanti saat sang nenek mengerjakan pengangkatan pilar itu.

Masyarakat akhirnya menyetujui walaupun sangsi, karena Pangeran Bendahara. Dan akhirnya pada subuh hari warga pun terkejut begitu menjadi keempat tiang telah berdiri tegap. Sang nenek pun tak pernah terlihat lagi batang hidungnya sejak saat itu.

Pengerjaan masjid rampung pada tahun 1891 (atau 27 Rajab 1311 Hijriah). Sultan Adji Muhammad Sulaiman adalah imam masjid pertama yang memimpin shalat ketika masjid Shirathal Mustaqiem telah selesai dibangun.

Pada tahun 1901, saudara Belanda, Henry Dansen, memberi hibah demi pembangungan menara masjid (seperti yang nampak di awal), setinggi 21 meter. Menara ini mengalami sedikit pemugaran pada warna (keseluruhan masjid sebenarnya juga begitu) namun tidak banyak pemugaran besar-besaran lebih dari itu. Karena bahan yang digunakan adalah dari kayu ulin sehingga keawetannya cukup terjaga.

Mimbar Masjid

Lokasi mimbar ini agak sedikit aneh, bukan? Seharusnya mimbar terletak di sebelah imam namun berbeda dengan mimbar di dalam masjid Shirathal Mustaqiem ini. Mimbar tersebut berada di pertengahan shaf di samping kanan dari arah shalat.

Hal ini memiliki alasan tersendiri, tentunya. Mimbar tidak jadi dipindah ketika terjadi perluasan pada masjid dikarenakan seorang warga yang diberi mimpi di mana seseorang meminta bahwa lokasi mimbar tersebut sebaiknya jangan diubah. Sehingga mereka pun menuruti dan lokasi mimbar pun tidak pernah berubah hingga sekarang.

Menara Masjid

Kondisi di tingkat pertama menara ini sungguh menakjubkan. Sedikit berangin dan mungkin akan segera menyiutkan nyali begitu melihat bahwa permukaan di mana kita berpijak hanyalah barisan potongan kayu ulin saja. Bahkan ada di beberapa bagian yang kayunya telah lepas. Tidak hanya itu, tangga tempat memanjat ke atas ternyata sangat kecil dan tidak memiliki sisi-sisi pegangan, jadi wajar hanya beberapa orang yang bersedia naik ke sana.

Tapi, bukankah kesempatan untuk melihat yang seperti ini sangat susah untuk dilewatkan hanya karena ketakutan untuk mengambil resiko?
 


Sangat berangin, dan agak disoriented mungkin karena tidak lagi menjejak tanah. X'D

Ada tingkat 2 dan 3, namun saya terlalu ciut karena saat itu tengah memakai rok. Not a really best desicion at that time to use a long skirt, uh. Naik tangga kecilnya saja sudah susah payah, saya sudah tidak berani mengambil resiko lebih jauh.

Penghargaan
Yaitu sebagai masjid bersejarah ke dua di Indonesia. Hanya dalam penjagaan benda-benda bersejarahnya kekurangan masjid ini, diakibatkan tidak adanya inventarisasi benda bersejarah yang ada dalam lingkungan masjid, dan hilangnya benda tersebut.

Lokasi Masjid Shirathal Mustaqiem 
Masjid ini terletak di Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Samarinda.











Monday, November 4, 2013

(Report #2) Samarinda Seberang (1/3): Makam La Mohang Daeng Mangkona


La Mohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado) adalah pendiri daerah pemukiman Samarinda Seberang yang nantinya akan menjadi cikal bakal dari kota Samarinda. Berawal dari daerah seberang inilah Samarinda berkembang menjadi sebuah kota dengan penduduk hampir satu juta jiwa dewasa ini.


Sejarah Singkat

Daeng Mangkona adalah orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa yang tidak ingin tunduk pada perjanjian Bungaya (Bongaja) setelah kerajaan di mana ia berdiam ditaklukan oleh Bone. Dalam usaha Daeng Mangkona untuk hijrah dari tanah lahirnya itulah ia berhenti di daerah Kesultanan Kutai, yang kemudian diterima baik oleh Sultan Kutai.

Sebagai bagian dari kesepakatan, rombongan orang Bugis Wajo pun diizinkan untuk bertempat tinggal dalam wilayah Kesultanan dengan beberapa persyaratan, salah satunya adalah ikut membantu menghadapi musuh. Dalam hal ini adalah membantu mempertahankan wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara dari perompak asal Filipina yang sering melakukan perampokan pada daerah pantai Kutai Kartanegara.

Namun, niat Sultan Kutai untuk memberikan wilayah bagi rombongan Daeng Mangkona bukan hanya karena berdasarkan simbiosis mutualisme semata. Sultan Kutai yang dikenal bijaksana memang bermaksud untuk memberikan tempat bagi masyarakat Bugis yang meminta suaka kepadanya, sebagai akibat dari peperangan dan perjanjian yang tak menguntungkan di tanah kelahiran mereka.

Wilayah perkampungan di mana masyarakat Bugis Wajo bertempat tinggal ini pun Sultan namai dengan Sama Rendah. Tentu nama ini pun memiliki arti yaitu baik pendatang maupun warga asli, berada pada derajat yang sama. Tidak ada perbedaan antara masyarakat Bugis, Kutai, Banjar, maupun suku-suku lainnya.

Rumah rakit pun harus memiliki tinggi yang sama antara yang satu dengan yang lainnya. Tidak ada perbedaan antara rumah si kaya maupun si miskin, mereka memiliki tinggi yang sama.

Ejaan Sama Rendah sendiri pada akhirnya berubah menjadi Samarinda

Dalam usahanya membangun Samarinda, Pua Ado (Daeng Mangkona) pun mendapat gelar Panglima Sepangan Pantai


Keadaan Situs

Terjadi pemugaran yang mengesankan pada situs makam, jika melihat pada keadaan beberapa tahun lalu yang belum terdapat pagar yang mengelilingi makam maupun tempat parkir, wc umum, dan pendopo pada sisi sebelah kiri makam. Begitu pula miniatur kapal.



Adapun pada bagian dalam situs terdapat empat makam; salah satunya milik Pua Ado.


Makam milik Pua Ado.





Juga makam milik para orang kepercayaan Pua Ado:



Tambahan: Kisah Mistis di balik Makam Daeng Mangkona

Awalnya kita hanya akan mengira bahwa ini adalah foto gagal yang hasilnya buram, namun ternyata begitu mendapat penjelasan dari sang juru kunci, aura mistis pun akan nampak.

Ini adalah foto sang juru kunci ketika sedang menjajakan barang dagangan di dekat kompleks makam. Sekumpulan anak muda iseng-iseng memfoto dirinya sekalipun ia sudah memperingatkan untuk tidak melakukan hal tersebut, yang tetap tak diindahkan. 

Dan begitu foto diperlihatkan, yang nampak bukan lagi sosok sang juru kunci namun berubah menjadi bentuk memanjang seperti ular ini. Menurut juru kunci, itu adalah penjaga dari makam Daeng Mangkona, yaitu sesosok ular naga berwarna keemasan.


Lokasi Situs Makam
Makam La Mohang Daeng Mangkona terletak di Jl. Mas Penghulu Kelurahan Mesjid, Samarinda Seberang. 
Agak susah menuju Makam ini disebabkan perbaikan jalan dan jalan kecil yang hanya dapat dilewati kendaraan roda dua dan roda empat.